Rabu, 25 Januari 2012

Penderitaan


Bacaan: Roma 8:26-30

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan ...- Roma 8:28


Mengapa orang saleh macam Ayub harus kehilangan segala-galanya? Ishak sudah belajar untuk mengalah terhadap orang-orang Filistin yang merebut sumur yang telah digalinya, namun mengapa seakan Tuhan tidak menolongnya sehingga berulangkali sumur yang telah digalinya selalu direbut oleh orang lain? Mengapa Tuhan membiarkan Yusuf diperlakukan tidak baik oleh kakak-kakaknya? Mengapa perempuan cantik dan bijak seperti Abigail harus mendapatkan suami jahat dan bebal macam nabal? Mengapa beberapa orang Kristen harus mati martir karena imannya kepada Yesus? Mengapa orang Kristen menderita? Mengapa penyakit kita tak kunjung sembuh? Mengapa usaha kita mengalami kebangkrutan. Bukankah Tuhan berjanji akan menjadi gunung batu dan perlindungan bagi kita? Tetapi nyatanya kita tetap saja mengalami penderitaan. Dimanakah janji Tuhan? Hati kita lebih gundah ketika melihat orang fasik justru terlihat begitu beruntung dibandingkan dengan kita. Mereka seakan makin kaya dan makin sukses saja, sementara kita justru semakin merosot dan berada dalam titik paling rendah. Dimanakah terletak keadilan Tuhan? Mengapa orang baik menderita?
Ini sekelumit pertanyaan yang kita ajukan saat Tuhan mengijinkan penderitaan datang dalam kehidupan kita. Saat-saat itulah kita begitu mudah tergoda untuk meragukan kasih dan kesetiaan Tuhan. Hati kitapun berontak. Tidak sanggupkah Tuhan menolongku? Kalau Dia memang sanggup untuk menolong, mengapa keadaan kita tidak juga berubah? Apakah Tuhan meninggalkan kita...
Saat Tuhan mengijinkan penderitaan datang dalam hidup kita, percayalah bahwa di balik semuanya itu ada rencana Tuhan yang indah bagi kita. Yang perlu kita lakukan adalah mempercayai bahwa Tuhan tetap turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihiNya. Jangan terburu-buru untuk bertanya dimana keadilan Tuhan, sebaliknya kita memiliki sudut pandang baru bahwa penderitaan yang kita alami justru akan mendekatkan kita kepada rencanaNya. Yang menjadi berita penghiburan bagi kita, kita tidak menanggung semuanya itu sendiri. Tuhan selalu memberi kekuatan kepada kita agar kita cakap menanggung segala perkara bersamaNya.

Di balik langit kelam yang hitam pekat, tersembunyi secercah matahari yang siap menghangatkan.


Sumber  : Renungan Spirit


Facebook  : Youth GAI CIPAYUNG
Follow us  : @Youth_GAICipayu

Rabu, 04 Januari 2012

Rasa Takjub


Bacaan: Mazmur 66:1-20

Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatanNya ... - Mazmur 66:5


Selama tiga dekade Abee hanya melihat kegelapan. Ia tidak pernah melihat indahnya pelangi seperti yang diceritakan banyak orang. Ia tidak pernah melihat kerlip bintang pada waktu malam yang selalu menjadi inspirasi bagi seorang penyair untuk menuliskan keindahan. Bunga yang warna-warnipun hanya menjadi “kata orang”, ia tidak pernah melihatnya sendiri. Begitu menyedihkan orang yang buta sejak lahir. Namun sekarang kita akan segera melihat senyumannya. Dokter bedah mata sudah mengoperasi matanya dan ia segera melihat apa yang selama ini diceritakan banyak orang kepadanya. Rasa takjub yang tak pernah henti! Ternyata indahnya pelangi, bunga yang berwarna-warni atau kemilau bintang di malam hari jauh lebih indah dari apa yang diceritakan banyak orang. Rasanya tak pernah bosan untuk melihat dan mengagumi apa yang dilihatnya.
Berbeda dengan reaksi yang kita tunjukkan saat melihat keindahan alam. Bagi kita indahnya pelangi atau indahnya bunga di taman menjadi begitu biasa bahkan kita sudah tidak memiliki rasa takjub lagi akan semuanya itu. Mengapa? Karena bagi kita semuanya itu sudah menjadi begitu biasa. Bukankah benar pernyataan ini? Jika sesuatu sudah menjadi biasa, hal itu akan menurunkan tingkat kekaguman kita kepadanya.
Hubungan kita dengan Tuhan juga kurang lebih seperti itu. Seandainya kita menganggap Tuhan sudah menjadi begitu biasa, kedatanganNya biasa, penderitaanNya biasa, pengorbananNya biasa bahkan kemuliaanNya biasa, maka tingkat kekaguman kita akan semakin menurun. Jangan buat anugerah Tuhan dan semua yang Tuhan buat dalam kehidupan kita menjadi biasa. Jika kita melakukan hal itu, percayalah, hati kita akan selalu takjub dengan apa yang Tuhan lakukan dalam hidup kita. Hal-hal sederhana yang tiap saat kita alami akan menimbulkan rasa takjub yang begitu mendalam seandainya kita melihat semuanya itu sebagai wujud kasih sayang Tuhan kepada kita. Mulut kita tak pernah berhenti untuk mengucap syukur atas kasih setia dan kebaikanNya. Itu sebabnya biarlah kita mau punya sikap seolah-olah kita ini seorang Abee yang melihat keindahan untuk pertama kalinya, rasa takjub yang tak pernah hilang...

Jika sesuatu sudah menjadi biasa, maka itu akan menurunkan tingkat kekaguman kita terhadapnya.

Sumber  : www.renungan-spirit.com

Senin, 26 Desember 2011

Mitos Tentang Uang


Bacaan: Matius 6:19-24

Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.- Matius 6:24


Siapa yang tak ingin kaya? Namun menjadi kaya saja tidak cukup. Apa gunanya kita kaya tapi kita tidak bisa menikmati kekayaan kita itu? Apa gunanya kita memiliki semua yang kita inginkan tetapi tidak bahagia? Banyak orang terjebak dengan pendapat umum bahwa menjadi kaya akan membuat hidup kita bahagia. Setiap rupiah yang makin bertumpuk dalam tabungan kita tak bisa jadi jaminan bahwa hidup kita pasti bahagia. Nyatanya banyak konglomerat yang tak bisa tidur. Banyak orang kelebihan uang tetapi mukanya selalu muram dan wajahnya selalu ditekuk. Waspadai dua mitos yang paling sering dipercayai orang di bawah ini, supaya kita tidak terjebak dalam pandangan yang keliru tentang kekayaan.
Mitos pertama, kita harus selalu mengejar uang karena itu tak pernah cukup.
Ini pandangan yang salah kaprah. Pada dasarnya uang kita selalu cukup sepanjang kita tahu bagaimana mengelolanya dengan bijak. Jadi keliru besar jika kita berpikir bahwa kita harus mencari uang sebanyak-banyaknya dan banting tulang siang malam demi mencukupi semua kebutuhan kita. Begitu membabibutanya kita mencari uang sampai-sampai kita meninggalkan waktu-waktu ibadah kita kepada Tuhan. Berpikir bahwa menggunakan setiap menit yang ada untuk menghasilkan uang akan membuat semua keinginan kita tercukupi. Kita keliru besar! Yang perlu kita lakukan sebenarnya adalah mengkondisikan keadaan dengan keuangan yang ada pada kita. Itu sebabnya memiliki perencanaan dan pengelolaan uang secara bijak akan lebih penting daripada mengejar uang dengan kalang kabut.
Mitos kedua, jika memiliki uang maka kita dapat memenuhi semua keinginan kita.
Ini juga keliru. Tidak semua hal di dunia ini dapat dibeli dengan rupiah. Apalagi kebutuhan yang sifatnya “abstrak” seringkali tidak bisa dibeli dengan uang. Siapa yang bisa membeli kedamaian, ketenangan, sukacita atau kepuasan sejati? Oleh sebab itu jangan pernah berpikir dan menjadikan uang sebagai tujuan hidup kita. Jika saja kita belum memiliki banyak uang, itu bukan berarti dunia berhenti berputar dan hidup kita berakhir. Untuk merasakan kebahagiaan dalam hidup ini tak selalu harus bergantung dengan berapa uang yang kita punya. Bukankah deposito kita di bank juga tidak membuat kita tidur dengan aman? Bukankah kertas-kertas berharga yang kita tanamkan dalam sebuah perusahaan maju juga tidak mampu mengundang kedamaian dalam hati?
Untuk menjadi bahagia kita tidak perlu menunggu jadi konglomerat dulu.

Sumber : www.renungan-spirit.com

Senin, 19 Desember 2011

Gembala yang Baik


Bacaan: Yohanes 10:1-18, Mazmur 23

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik menyerahkan nyawanya bagi dombanya.- Yohanes 10:11


Ada perbedaan yang sangat menyolok dalam kultur kita dibandingkan dengan kultur Yahudi soal menggembalakan domba. Merupakan pemandangan yang lazim seandainya kita melihat seorang gembala berjalan di belakang domba-dombanya. Tak hanya itu saja, si gembala itu lebih banyak santai, membiarkan domba-dombanya mencari makan sendiri-sendiri dan tak begitu ambil pusing seandainya ada bahaya mengancam domba-domba yang sedang digembalakannya.
Pemandangan ini menjadi tak lazim jika kita melongok style gembala dalam tradisi Yahudi. Kita akan segera melihat bahwa seorang gembala memiliki rasa tanggung dan dedikasi yang tinggi dalam menggembalakan domba-dombanya. Bukannya berdiri di belakang domba-dombanya, melainkan berdiri di depan domba-dombanya sehingga ketika bahaya mengancam, gembala lah yang pertama kali menghadapinya. Bukannya membiarkan domba-dombanya mencari makan sendiri sementara ia hanya tiduran dengan santai di bawah pohon rindang sambil meniup seruling, seperti penggambaran gembala dalam tradisi Jawa, sebaliknya ia memimpin domba-dombanya mencari padang rumput yang terbaik bagi domba-dombanya.
Bukankah fakta ini ditunjukkan Daud ketika ia masih menjadi seorang muda yang menggembalakan beberapa ekor domba? Tak jarang ia harus berhadapan dengan singa, beruang atau binatang buas lainnya hanya demi melindungi setiap domba-dombanya.
Tuhan adalah gembala yang baik bagi kita. Ia benar-benar bertanggung jawab atas hidup kita. Puncak dari kasih dan dedikasi Yesus sebagai gembala yang baik dibuktikan ketika Ia menyerahkan dirinya di atas kayu salib bagi kita sebagaimana perkataan Yesus sendiri, “Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Dengan beban hidup yang begitu menghimpit kadangkala kita berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan kita. Jangan pernah meragukan kesetiaan Tuhan dalam hidup kita. Bukankah pemeliharaannya tetap nyata atas kita. Kalaupun kita harus melewati masa-masa sulit atau lembah kekelaman, percayalah bahwa kita tidak sendiri, Ia selalu menyertai kita. Sang Gembala Agung berdiri di depan kita untuk menolong kita melalui lembah kekelaman itu. Masihkah kita takut dan meragukan Yesus sebagai gembala yang baik?
Yesus adalah gembala yang baik. Kita akan selalu aman bersamanya.

Sumber : RHK

Selasa, 13 Desember 2011

JUST SHARE FOR ALL

Buat Teman2 Semua..
Yang mau dan sedang Mencari lagu-lagu Rohani Kristen Lengkap.
Maka dapat Mengunjungi Situs/Blog Dibawah Ini :


http://full-mp3kristen.blogspot.com


Ada Banyak Penyanyi Ataupun Band rohani disana seperti :
Sari Simorangkir,True Worshipper,Planetshakers,Hillsongs,pokoknya banyak dech..
yaudah langsung aja Sobat....ke TKP dan rasakan manfaatNya..


Terimakasih Atas Kunjungannya....

Berkat Sederhana


Bacaan: Lukas 17:11-19

Lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepadaNya.- Lukas 17:16


Hari ini cukup menjengkelkan bagi saya. Perut saya menuntut minta diisi, berteriak tanda lapar. Masuklah saya ke sebuah rumah makan. Membayangkan masakan lezat yang sebentar lagi akan membuat perut tak lagi rewel. Sayang, kenyataan tak selalu seperti yang dibayangkan. Rasanya hambar dan mematikan selera. Kejengkelan saya makin bertambah saat melihat pelayanan yang sama sekali tidak ramah, plus harga yang selangit. Namun semua kejengkelan itu sirna seketika saat saya melihat seorang anak kecil yang berdiri terpaku di depan rumah makan dengan tatapan mengiba. Sungguh ironis, saya jengkel karena mempermasalahkan cita rasa makanan sementara di dekat saya ada anak kecil yang mungkin menahan lapar.
Bukankah kita sering punya pengalaman yang seperti itu? Sungguh ironis, kita jengkel gara-gara dipusingkan dengan makan apa dan makan dimana, sementara sebagaian orang terpinggir berkata,”Hari ini apa kita makan?” Kita meributkan gaun yang mahal sementara masih banyak orang yang “telanjang”. Kita mengeluh tentang perusahaan kita yang berceceran sementara di seberang sana terdapat pengangguran yang merenungi nasib. Kita marah besar melihat Mercy kita sedikit tergores, padahal di luar sana masih ada banyak orang yang sedang berjuang keras untuk tetap hidup. Kita mempermasalahkan harta warisan, sementara masih banyak orang papa.
Tatapan mengiba dari gelandangan kecil itu menyadarkan betapa saya adalah orang yang tak tahu berterima kasih. Itu sebabnya kita perlu melihat kehidupan “orang-orang kecil” dan punya hati untuk mereka. Melihat kehidupan mereka dari dekat membuat kita tak gampang marah, jengkel, ribut atau mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Sebaliknya kita akan terus belajar mensyukuri berkat dan kebaikan Tuhan dalam hidup kita, apapun bentuknya.
Tuhan mengajar saya untuk mengucap syukur dalam segala keadaan. Bagaimanapun keadaan kita, sebenarnya selalu ada sisi-sisi yang selalu bisa kita syukuri. Mengenal berkat di dalam hal-hal sederhana. Makan masih tiga kali sehari. Berpenampilan pantas dan kadang masih bisa mengundang decak kagum. Berteduh dengan atap. Mengecap bangku sekolah. Kita punya pekerjaan, meski tak jadi manajer. Walau tak bisa dikatakan cantik atau tampan, kita punya anggota tubuh yang lengkap dan bisa menikmati keindahan. Adakah alasan bagi kita untuk tak bersyukur?
Hidup kita akan selalu melimpah dengan syukur, seandainya kita mengenal berkat Tuhan dalam hal-hal sederhana.

From : www.renungan-spirit.com

Rabu, 30 November 2011

Just Do It!


Bacaan: Matius 14:22-33

Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.- Matius 14:29


Untuk menjadi seorang entrepreneur sejati, kita harus memiliki keberanian untuk melangkah. Tanpa keberanian untuk melangkah, mimpi yang besar, strategi yang sangat bagus, bahkan perencanaan yang sangat sempurna akan menjadi sia-sia. Memang kadangkala kita takut jika sudah diperhadapkan dengan sejumlah resiko yang bakal kita alami. Bagaimana kalau nanti gagal? Bagaimana kalau responnya sangat buruk? Bagaimana kalau keadaan tidak menjadi baik? Ingatlah bahwa hidup memang mengandung resiko, dan prinsipnya adalah seperti ini : lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Untuk menggambarkan pentingnya sebuah action, kita bisa belajar dari illustrasi bagaimana caranya orang belajar renang. Untuk bisa berenang, belajar teori memang perlu. Namun hal itu belumlah cukup. Menguasai teori bagaimana berenang, bukan berarti kita sudah bisa berenang. Lalu apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa berenang? Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus berani menceburkan diri di kolam renang dan mulai bergerak. Memang ada kalanya kita tenggelam, bahkan kemasukan air. Itu bagian dari resiko yang harus kita ambil. Percayalah dengan berani bayar harga berupa beberapa teguk air kolam dan upaya yang kuat untuk bisa berenang akan membuat kita benar-benar bisa berenang.
Just do it, miracle happen! Lakukanlah, dan mujijat akan terjadi! Sepanjang saya membaca kisah-kisah mujijat di dalam Alkitab, itu semua selalu diawali dengan keberanian untuk melangkah. Ketika Musa mengulurkan tongkatnya ke atas laut Kolsom, mujijat terjadi. Ketika Yosua mulai melangkahkan kakinya ke atas sungai Yordan, mujijat terjadi. Ketika Naaman mulai melangkah ke sungai Yordan dan membenamkan dirinya, mujijat terjadi. Ketika Petrus berani melangkah di atas air, mujijat terjadi! Demikian juga di saat kita berani untuk melangkah dalam pekerjaan kita, mujijat juga akan terjadi! Jiwa seorang entrepreneur sejati adalah keberanian yang dipimpin oleh hikmat.
Milikilah keberanian yang dipimpim oleh hikmat.

Belajar dari Kesalahan


Bacaan: Amsal 14:1-35

Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman. - Amsal 14:16


Tahun enam puluhan, sebelum era komputer dan elektronik, seorang juru tik yang ceroboh di Houston, Texas, mencari cara untuk memperbaiki kesalahan ketiknya. Ia menemukan cat putih di garasi yang diencerkan dengan cairan pengencer, lalu mulai menghapus kesalahannya dengan 'cat' itu. Ia menunggu cat itu kering lalu mengetikkan ejaan yang benar. Rekan-rekannya menyukai gagasannya dan ingin membeli larutan buatannya. Gagasan itu menjadi populer, sampai perusahaan 3-M membeli produk dan gagasannya dengan harga tiga juta dolar. Kini, kita mengenalnya sebagai Type-Ex. Ternyata, kesalahan pun dapat menjadi ide brilian.
Tidak perlu malu karena pernah berbuat kesalahan, selama hal itu dapat menjadikan kita lebih bijaksana dari sebelumnya. Keterbatasan pengetahuan, ketidaktahuan, lupa, dan masih banyak hal lain dapat membuat kita salah dalam bertindak dan mengambil keputusan. Dalam hidup, kita pasti akan mengalami rasanya melakukan kesalahan. Namun, yang penting adalah kenali kesalahan-kesalahan itu dan belajarlah darinya, supaya kita jangan terus berkubang di kesalahan yang sama.
Di dalam Alkitab, kita juga melihat beberapa tokoh besar yang semasa hidupnya pernah berbuat salah. Sebut saja Petrus. Ia pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, tetapi ia bertobat. Setelah dipulihkan, hidupnya pun menjadi berkat bagi orang banyak. Berbeda sekali dengan Yudas. Sama-sama murid Yesus, mereka juga sama-sama bersalah. Namun, bedanya Yudas lebih memilih untuk berkubang dalam lumpur dosa, sehingga ia mati sia-sia.
Presiden Roosevelt berkata, “Satu-satunya orang yang tidak membuat kesalahan adalah orang yang tidak pernah melakukan apa-apa.” Sedangkan Paul Galvin mengatakan, “Jangan takut dengan kesalahan. Kebijaksanaan biasanya lahir dari kesalahan.” So, tetaplah berkarya. Don't worry about fail! Ok?

Misteri 13


Bacaan:

Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.- I Timotius 4:7


Amatilah perilaku masyarakat posmodern. Seharusnya semakin maju sebuah peradaban, maka hal-hal yang bersifat takhayul atau mistis akan semakin ditinggalkan. Nyatanya, sampai kini hal-hal yang bersifat mistis atau takhayul masih saja populer. Sebagai contoh adalah ketakutan dengan angka 13 yang ditengarai sebagai angka sial. Istilah lain untuk ketakutan terhadap angka 13 ini adalah triskaidekaphobia. Tidak perlu heran kalau di sebuah hotel tidak ada lantai ke 13 dan tidak ada kamar nomor 13. Alamat rumah juga jarang memakai angka 13, biasanya diganti 12B. Begitu keramatnya angka 13, pemikir-pemikir modern, hebat dan kaya raya seperti Paul Getty sampai presiden Amerika seperti Franklin Delano Roosevelt selalu tegas menolak hadir dalam acara resmi yang dihadiri tiga belas orang. Aneh, bukan?
Mengapa hal-hal yang bersifat takhayul bisa sedemikian populer? Kemungkinan besar karena cerita dari mulut ke mulut tentang berbagai macam peristiwa sial dan mengerikan yang terjadi di seputar angka 13 tersebut, apalagi kalau terjadi di tanggal 13 di hari Jumat (Friday). Anggap saja cerita tersebut tidak dibuat-buat dan peristiwa mengerikan tersebut benar-benar terjadi di tanggal 13 atau hal-hal yang berkaitan dengan angka 13, apakah itu menunjukkan bahwa angka 13 benar-benar angka sial dan angka keramat?
Tentu saja tidak demikian. Bisa saja peristiwa tersebut terjadi karena kebetulan saja. Atau kemungkinan yang lain adalah disebabkan orang yang bersangkutan begitu meyakini atau “mengamini” bahwa angka 13 benar-benar angka sial. Seperti yang kita tahu, sering kali apa yang kita yakini, itulah yang akan terjadi. Firman Tuhan sendiri juga mengatakan apa yang kita takutkan itulah yang terjadi. Dari hal ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa angka 13 bukanlah angka keramat yang menyeramkan, karena semua angka itu baik. Keyakinan terhadap hal-hal yang bersifat takhayul itulah yang tidak baik.

GBU,,,

Doa itu Kebutuhan


Bacaan: Efesus 6:10-20

Dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh. - Efesus 6:18a


Suatu waktu di gereja, seorang pendeta bertanya kepada satu keluarga, “Apakah kalian melakukan doa bersama?” “Maaf, Pak pendeta,” jawab kepala keluarga itu, “kami tidak punya waktu untuk itu.” Pendeta itu berkata, “Seandainya kamu tahu salah seorang anakmu akan sakit, apakah kalian tidak akan berdoa bersama memohon kesembuhannya?” “Oh, tentu kami akan berdoa,” jawab sang ayah. “Seandainya kamu tahu bahwa ketika kamu tidak berdoa bersama, salah satu anakmu akan terluka dalam kecelakaan, apakah kamu tidak akan berdoa bersama?” “Kami pasti akan melakukannya.” “Seandainya untuk tiap hari ketika kamu lupa berdoa, kamu akan dihukum lima ratus ribu, apakah kamu akan berdoa?” “Tentu Pak, kami akan berdoa bersama. Tapi maaf, apa maksud pertanyaan-pertanyaan tadi?” “Begini Pak, saya pikir masalah keluarga Anda bukan soal waktu. Buktinya Anda ternyata selalu punya waktu untuk berdoa. Masalahnya adalah, Anda tidak menganggap doa keluarga itu penting, sepenting membayar denda atau menjaga agar anak-anak tetap sehat.”
“Tuhan, ampunilah kami karena kami telah berpikir bahwa doa adalah membuang waktu dan tenaga, dan tolonglah kami agar dapat melihat bahwa tanpa doa pekerjaan kami hanya membuang waktu dan tenaga...” ungkap Peter Marshall. Ya, doa seharusnya menjadi kunci pembuka di pagi hari dan gembok pelindung di malam hari. Doa memberi kekuatan pada orang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya, dan memberi keberanian pada orang yang takut. Jika kita berdoa saat kesulitan, doa itu akan meringankan kesulitan kita. Jika kita berdoa pada saat gembira, doa itu akan melipatgandakan kegembiraan kita.
Bila akhir-akhir ini kita tidak atau jarang berdoa, sekaranglah waktunya untuk memulai kembali. Komunikasi langsung dengan Tuhan melalui doa dapat menciptakan keajaiban bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain. Ingatlah bahwa satu hari yang dilipat dalam doa tidak akan mudah dikoyakkan.

GBU,,,

Tidak Ditentukan Orang Lain


Bacaan:

Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka. - Lukas 6:35


Dua orang sahabat sedang menghampiri kios koran dan membeli beberapa koran serta majalah. Adanya pembelian harusnya membuat penjual koran tersebut senang. Tapi yang terjadi tidaklah demikian. Dia melayani dengan buruk, tidak sopan, dan dengan muka cemberut. Orang pertama jelas jengkel menerima layanan yang buruk seperti itu. Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual tersebut. Orang pertama bertanya kepada sahabatnya, “Mengapa kamu bersikap sopan kepada penjual menyebalkan itu?” Sahabatnya menjawab, “Mengapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak?”
Yes! Itulah pointnya! Jangan pernah biarkan orang lain menentukan cara kita bertindak seandainya orang tersebut sedang melakukan hal yang buruk kepada kita. Sayangnya, sering kali kita tidak berbuat demikian. Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadinya sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang tersebut.
Harus saya akui, kadang kala saya gagal juga dalam hal ini, khususnya saat saya berkendara. Saat ada mobil lain menyerobot jalan dengan seenaknya, saya tiba-tiba jadi jengkel dan berusaha membalasnya dengan gantian menyerobot jalannya. Tindakan saya dipengaruhi oleh tindakan orang lain terhadap saya. Di sisi lain, saya bisa berbuat sedemikian baik, santun, dan luar biasa terhadap orang yang juga melakukan hal yang sama kepada saya. Saat saya merenung-renung tentang hal ini, saya jadi malu sendiri. Mengapa tindakan saya harus dipengaruhi oleh orang lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, saya harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu? Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga punya “penyakit” seperti saya? Jaga suasana hati, jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak.

GBU...


Sumber  :  www.renungan-spirit.com

Sedia Payung Sebelum Hujan


Bacaan: Kejadian 41

-


Waktu kecil, ketika saya pertama kalinya menerima uang saku, senengnya bukan main. Ayah saya memberikan uang saku sekali seminggu. Tentunya beliau ingin mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana mengelola uang meski tidak banyak. Hari Minggu adalah hari yang paling ditunggu karena itulah “hari gajian” kami. Anak-anak menerima uang jajan untuk dipergunakan di hari Senin sampai Sabtu mendatang. Pertama-tama, karena belum pernah pegang uang sebelumnya, saya membelanjakan uang itu untuk membeli jajanan yang saya inginkan di sekolah. Tak terasa uang sudah habis di hari kedua. Akibatnya, saya harus puasa jajan selama hari Rabu sampai Sabtu. Itulah pelajaran pertama dalam hidup saya, bagaimana pentingnya mengelola keuangan.
Hari-hari ini dunia sedang menggeliat kesakitan karena krisis ekonomi. Krisis besar-besaran ini adalah krisis keuangan terbesar sepanjang dunia modern. Resesi global sudah mulai terjadi diawali dari Amerika yang selama ini diyakini sebagai negara terkuat. Bahkan negara-negara yang selama ini dianggap maju dan stabil seperti Singapura dan Inggris telah merasakan dampaknya. Sebagai anak muda yang ngakunya modern ;) jangan sampai kita enggak tau apa-apa soal hal ini. Kalo selama ini kita sudah terbiasa hidup nyaman dalam kelimpahan, sekaranglah waktunya kita menggantinya dengan gaya hidup hemat sebelum terlambat.
Girls, kita memang punya Tuhan yang senantiasa sanggup mencukupi kebutuhan kita. Kita punya Allah yang enggak terbatasi resesi untuk memberkati kita. Tapi Tuhan tidak menghendaki kita hidup seperti orang bebal. Kita bisa meneladani Yusuf yang penuh hikmat Allah, mempersiapkan diri menjelang masa kelaparan selama 7 tahun, bahkan menyelamatkan hidup suatu bangsa yang besar. (Kej. 50:20)
Mulai sekarang kita harus lebih bijak dalam mengatur keuangan kita. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari gara-gara kebodohan kita sendiri. Hiduplah dengan hemat dan bijaksana. Malam minggu enggak selalu harus jalan-jalan ke mall (yang artinya bakalan bikin kita jadi pengen ini itu). Rutinlah menabung dan rencanakanlah pengeluaran dengan baik (bukan hanya membuat catatan pengeluaran saja). Enggak perlu kuatir akan hari esok, selama kita hidup dalam kehendak Tuhan. Okay, girl... be smart!

Sumber : www.renungan-spirit.com

Menerima yang Buruk ?


Bacaan: Ayub 1-2:10

...Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?... - Ayub 2:10


Di saat kita mengalami peristiwa-peristiwa buruk dalam hidup, biasanya kita cenderung bersikap protes dan tidak dapat menerimanya dengan sukacita. Kita bertanya pada Tuhan, ”Mengapa semuanya ini Kau biarkan terjadi?” Apalagi jika tidak ada kesalahan yang kita lakukan yang setimpal dengan semua “hukuman” ini. Kita memprotes Tuhan dengan berkata, ”Ini tidak adil...”
Kadangkala kita merasa bahwa hidup ini tidak adil bagi kita. Lalu apakah kita pantas memprotesnya kepada Tuhan? Ayub pernah mengalami hal yang sama sekali tidak adil. Dia seorang yang benar bahkan Tuhan pun memuji kesalehannya. Tidak ada kesalahan yang diperbuatnya hingga “hukuman” bertubi-tubi datang dalam hidupnya. Anak-anaknya tewas dalam sekejap, harta kekayaannya habis sama sekali dengan cara yang tak dapat dipercaya, dan tiba-tiba seluruh tubuhnya dipenuhi penyakit yang memalukan dan menyiksanya. Tetapi apa yang dikatakan Ayub sebagai reaksi pertamanya terhadap semua kejadian itu sungguh sangat luar biasa. Saya percaya bahwa hikmat Allah yang menuntun bibirnya untuk mengucapkan kata-kata ini, “Apakah kita hanya mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”
Bila Anda seorang isteri atau suami, maukah Anda diperlakukan sedemikian oleh pasangan Anda? Isteri Anda hanya mau hidup bersama-sama dengan Anda bila semua keinginannya terpenuhi. Di saat Anda kena PHK atau terbaring tak berdaya di rumah sakit, ia meninggalkan Anda. Atau bayangkan bila suami Anda hanya mencintai Anda bila tubuh Anda masih seksi. Saat Anda sudah melahirkan anak-anak baginya dan tidak memiliki tubuh yang indah lagi, ia mencampakkan Anda dan mencari wanita lain untuk memuaskan keinginannya.
Bukti kasih kita kepada seseorang akan terbukti di saat kita harus melewati masa-masa yang tidak menyenangkan. Anda tidak akan pernah mengetahui kesetiaan pasangan Anda bila tidak ada ujian yang tidak menyenangkan terjadi dalam hidup Anda. Demikian pula Allah harus mencari tahu apakah kita benar-benar mengasihi-Nya dalam segala keadaan dengan memberikan kita ujian-ujian kehidupan. Kebangkrutan, penolakan, kehilangan, dan penderitaan lainnya hanyalah cara Allah untuk mengetahui isi hati kita yang sebenarnya./Silvie
Tuhan mengijinkan penderitaan terjadi hanya untuk mengetahui isi hati kita yang sesungguhnya.

GBU..

Sumber : www.renungan-spirit.com

Selasa, 15 November 2011

First Love


Bacaan: Wahyu 2:1-7

... karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.- Wahyu 2:4

Tentu kita setuju bahwa hal yang baru merupakan sesuatu yang sangat mengasyikan. Saat awal mula belajar gitar, saya begitu kecanduan dengan gitar ini, sehingga tiada waktu senggang yang dilewatkan begitu saja tanpa belajar gitar. Namun sekarang, saat saya sudah bisa memainkan gitar, semangat yang menggebu-gebu itu semakin menyurut dan memainkan gitar tak lagi menyenangkan seperti ketika pertama kali belajar memainkannya. Hal yang sama juga terjadi saat saya belajar komputer untuk pertama kalinya. Mengetik dan membiarkan jari jemari menari-nari di atas keyboard adalah hal yang menyenangkan, sampai-sampai saya mengetik semua hal yang bisa diketik. Namun sekarang, setelah saya berkutat tiap hari di depan komputer untuk menulis, kegiatan mengetik tak menyenangkan seperti dulu. Bahkan kadangkala saya merasa letih dan bosan! Awal mula kita jatuh cinta, perasaan menggebu mendorong kita untuk selalu ingin bertemu, kencan dan menghabiskan waktu bersama-sama, namun setelah kita masuk dalam bahtera rumah tangga, kadangkala perasaan kita yang menggebu juga surut dengan sendirinya dan semuanya menjadi begitu biasa.
Jika hal yang seperti ini terjadi dalam hubungan kita dengan Kristus, maka Alkitab menyebutnya dengan istilah kehilangan kasih yang mula-mula. Waktu pertama kali kita bertobat dan mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan, bukankah kita begitu semangat dan haus akan hal-hal rohani? Kita berdoa tanpa henti, membaca Alkitab dengan penuh kehausan dan melakukan pelayanan dengan sukacita, namun sekarang apakah cinta mula-mula itu masih kita pertahankan dalam kehidupan rohani kita? Ataukah seiring waktu yang berjalan, kasih kita kepada Tuhan mulai surut dan terlihat begitu membosankan?
Belajar dari jemaat di Efesus, hal yang paling penting bukanlah sejauh mana kita bekerja keras dalam melayani Tuhan, atau sebesar apakah jerih payah dan ketekunan kita, atau seberat apa penderitaan kita karena Kristus. Hal-hal itu memang penting, tapi yang terpenting adalah apakah masih ada kasih mula-mula di dalam kehidupan rohani kita? Tanpa di dasari kasih yang mula-mula, maka semua hal yang kita lakukan bagi Tuhan menjadi nihil dan tak berarti. Perhatikan warning dari Tuhan ini : Ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh!

Apa yang kita bangun dengan susah payah menjadi tak berarti, jika tidak kita menjadikan kasih sebagai pondasinya.


Sumber   : www.renungan-spirit.com

Minggu, 16 Oktober 2011

Mengakui Kelemahan


Bacaan: 2 Korintus 12:7-10

..."Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."...- 2 Korintus 12:9

Suatu kali ketika kantor kami tengah mencari seorang tenaga administrasi, saya mewawancarai beberapa orang pelamar. Dari begitu banyak pelamar yang saya temui, ada satu orang yang sangat unik. Ketika pertanyaan “Apa kelebihan yang Anda miliki?” dilontarkan, dia mampu memberikan serentetan jawaban yang cukup baik. Namun anehnya ketika diminta menyebutkan kelemahannya, tak ada satupun yang disebutkannya. Sungguh mengherankan melihat orang yang bisa melihat begitu banyak kelebihan yang dimilikinya, namun tak dapat menemukan satu pun kelemahan dalam dirinya. Bagi saya, hal itu justru menjadi nilai buruk dalam hasil wawancara.
Nobody is perfect. Tak ada seorang pun manusia yang sempurna selain manusia-Allah Yesus Kristus. Setiap orang memiliki kelemahan. Bahkan Superman pun punya krypton. Ketidakmampuan kita melihat kelemahan diri sendiri justru merupakan kelemahan kita yang terbesar. Ketika kita memandang diri kita sebagai sosok yang sempurna, berarti kita tidak akan pernah terpacu untuk memperbaiki diri. Bagaimana kita bisa mengurus perbaikan diri bila kerusakannya saja tidak bisa kita lihat?
Bagaimana ciri-ciri orang yang tak mampu melihat kelemahan diri? Ketika mendengar khotbah disampaikan membahas dosa/kelemahan tertentu, kita langsung teringat kepada orang lain. Dengan cepat kita melihat kelemahan si Anu atau si Itu sehingga lupa untuk introspeksi diri sendiri. Saat menemukan orang lain berbuat salah, kita marah besar atau kecewa berat. Kita sulit menolerir kelemahan orang lain karena kita selalu menganggap diri lebih baik atau lebih mampu dari mereka. Kita bahkan jadi sulit mengampuni dan lupa bahwa diri kita ini pun manusia berdosa yang masih membutuhkan pengampunan dari Tuhan. Waktu kita mendapatkan teguran atau nasihat kita langsung tersinggung. Alih-alih menerima saran mereka, kita malahan menganggap mereka sedang membesar-besarkan masalah dan sengaja ingin menjatuhkan kita. Kita perlu belajar menyadari kelemahan diri dan meletakkannya di kaki Tuhan untuk disempurnakan dalam kasih-Nya.
Perbaikan diri dimulai dari kemampuan untuk melihat kelemahan diri.


Sumber  :  Renungan Spirit

Glow in the Dark


Bacaan:

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. - Matius 5:16

Dulu sekali, saat saya masih remaja, saya pernah memiliki t-shirt “glow in the dark”. Sesuai namanya yang berarti “bersinar di tengah kegelapan”, maka kaos saya ini akan memancarkan sinar saat berada di tempat yang gelap. Saat ini kita banyak menemukan mainan atau semacam asesoris “glow in the dark” yang biasanya ditempel di dinding kamar atau di langit-langit kamar. Saat lampu dimatikan maka asesoris-asesoris itu akan memancarkan sinarnya yang khas. Semua yang berjenis “glow in the dark”, baik kaos, mainan, stiker, dll. hanya akan berfungsi jika berada di tempat gelap. Kalau di tempat terang, maka keistimewaan “glow in the dark” tidak akan terlihat sama sekali.
Tahukah Anda bahwa kita semua memiliki destiny sebagai “glow in the dark”? Tuhan sendiri berkata bahwa kita adalah terang dunia. Logikanya, terang hanya akan berfungsi di tempat gelap. Sayangnya, banyak orang Kristen justru hanya menunjukkan terangnya di tempat yang terang. Lupa, bahwa yang memerlukan penerangan adalah tempat-tempat yang gelap.
Mari kita teladani bagaimana pelayanan Yesus. Memang Dia juga mengajar di rumah Allah, tapi jangan pernah lupa bahwa sebagian besar waktu-Nya tidak dihabiskan di sinagoge (rumah Allah). Dia menghabiskan sebagian besar waktu-Nya di lapangan dan di tempat-tempat gelap yang perlu Dia terangi! Dia lewatkan waktu-Nya di pantai, di pasar, di bukit-bukit, di rumah pemungut cukai, di tempat yang memungkinkan seorang pelacur datang kepada-Nya.
Menjadi terang adalah mudah, sebab kita sendiri adalah terang adanya. Namun menjadi terang yang menyinari kegelapan, itulah yang sulit. Menjadi orang Kristen itu mudah, tapi menjadi orang Kristen yang berdampak bagi lingkungan dimana dia berada itulah yang penting. Dunia kita sedang berada dalam kegelapan dan kekelaman sedang menyelimuti bangsa-bangsa, inilah waktunya kita tampil untuk menerangi mereka, glow in the dark!


sumber  :  Renungan Spirit

Rabu, 12 Oktober 2011

Memelihara Tanggung Jawab


Bacaan: Amsal 27:18-20

Siapa memelihara pohon ara akan memakan buahnya ... - Amsal 27:18


Ada yang menarik dari pohon persik. Pohon persik yang dibiarkan begitu saja akan tumbuh dan menghasilkan buah, namun buahnya akan cenderung kecil, keras dan rasanya masam. Hasil yang sama sekali tidak memuaskan, sekaligus mengecewakan. Untuk memperoleh hasil panen yang luar biasa berupa buah yang lezat dan manis, maka tidak ada pilihan lain kecuali diperlukan kerja keras dan perhatian yang cermat. Tiap batang pohon harus disirami, dipangkas, disemprot dan dijarangkan. Selain itu, pemeliharaan yang terus menerus diperlukan untuk menghindarkan dari penyakit daun atau serbuan serangga.
No pain no gain. Jika tidak ada usaha, maka juga tidak ada hasil. Jika usaha kita biasa, maka hasilnya juga biasa. Jika usaha kita asal-asalan, maka hasilnya juga akan mengecewakan. Itu prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Itu hukum kehidupan yang akan terus berlaku.
Pekerjaan, bisnis dan pelayanan yang kita lakukan pun sama seperti pohon persik tersebut, yang memerlukan perhatian secara terus menerus untuk memperoleh hasil yang optimal. Jadi, hasil seperti apa yang kita kehendaki? Atau buah seperti apa yang kita ingin petik? Demikian juga halnya kita akan melakukannya. Sebagai seorang pebisnis yang menginginkan usaha kita berjalan dengan maksimal, maka jelas kita tidak boleh hanya duduk-duduk santai saja, melainkan kita terus memantau dan memperhatikan dengan seksama bagaimana jalannya perusahaan kita. Kalau perlu kita harus turun langsung ke tempat kerja, mengontrol secara langsung, memberi waktu lebih banyak kepada pelanggan atau klien secara langsung untuk mendengarkan feedback dari mereka.
Itu salah satu contoh saja dari hasil sederhana yang bisa kita kerjakan. Dalam pelayanan hal yang sama juga berlaku. Jika kita ingin pelayanan kita optimal, maka kita pun harus berani bayar harga lebih lagi. Sebenarnya semuanya berpulang kepada kita. Usaha kita akan menentukan hasil. Ketekunan setiap hari akan memberikan benefit besar dan memungkinkan setiap pekerjaan, bisnis, dan pelayanan kita menghasilkan buah yang manis, seperti yang kita harapkan sebelumnya. Untuk hal ini, ada dua musuh besar yang perlu kita waspadai, yaitu kemalasan dan kehilangan fokus dengan usaha yang kita kerjakan saat ini.
Peliharalah terus menerus tanggung jawab Anda, demi hasil yang optimal.


Sumber   :  Renungan Spirit

Reputasi


Bacaan:

Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?- Galatia 3:3

Warren Buffett, salah satu orang terkaya di dunia, pernah berkata, “Dibutuhkan waktu dua puluh tahun untuk membangun reputasi dan lima menit untuk menghancurkannya. Jika memikirkan hal ini, Anda akan melakukan sesuatu dengan cara berbeda.”
Karena untuk membangun reputasi dibutuhkan waktu dan proses yang sangat panjang, itu alasan mengapa reputasi adalah sesuatu yang sangat berharga dan mahal. Sudah selayaknya sesuatu yang berharga dan mahal itu dijaga sedemikian rupa. Sayangnya, banyak orang melakukan kebodohan dengan menghancurkan reputasinya sendiri. Seperti yang kita tahu, satu-satunya orang yang bisa menghancurkan reputasi kita adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Meski ada orang mencoba menghancurkan reputasi kita dengan gosip, fitnah, atau berita-berita murahan, reputasi kita akan tetap terjaga.
Saat saya menulis renungan ini, pemberitaan mengenai terlibatnya tindak kriminal salah satu pejabat tinggi di negara kita sedang ramai-ramainya dibicarakan. Padahal sebelumnya dia dikenal sebagai orang yang cukup berjasa dalam memajukan Indonesia. Sayang, nila setitik rusak sebelanga. Berpikir pendek, saya rasa itu penyebab mengapa seseorang “rela” menghancurkan reputasinya sendiri yang sudah dibangun bertahun-tahun lamanya. Reputasi Daud sebagai raja yang bijak, yang pemberani, yang disertai Allah sudah tidak bisa diragukan lagi. Namun reputasi yang dibangun bertahun-tahun seolah-olah menguap saat ia memutuskan untuk berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria dengan cara yang sangat licik.
Membangun reputasi itu butuh proses yang lama, sedangkan untuk menghancurkannya butuh waktu sekejap. Pikirkan ini, maka kita akan lebih bijak dan berhati-hati untuk tidak menghancurkan reputasi kita sendiri.

Sumber  :  Renungan Spirit

Anda Orang Penting!


Bacaan: Mazmur 139:13-24

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.- Mazmur 139:14


Executive Digest memuat sebuah tulisan sederhana yang tertulis di sebuah motel agar semua pekerjanya tetap masuk kerja, demikian isi tulisannya: “KAMU ITU PENTING”. Bila kamu ingin membolos tanpa memberitahukan pimpinan, dan kamu pikir bahwa ketidakhadiran satu orang tidak akan mengganggu maka kamu membuat pimpinanmu seperti seorang yang mengetik dengan mesin ketik yang satu hurufnya hilang. Dia memang bisa mencarikan seseorang untuk menggantikanmu, tapi hasilnya tentu tidak akan sama seperti bila dia bekerja dengan orang yang memang tepat untuk pekerjaan itu.
Apakah kita menyadari bahwa diri kita adalah orang penting? Demikian juga apakah kita menganggap setiap orang itu penting? Setiap orang itu penting, bukan karena kedudukan, kekayaan, popularitas, kekuasaan atau predikat hebat apa yang melekat di dalam dirinya. Setiap orang penting karena Tuhan memang menciptakan setiap orang itu penting. Setiap orang penting karena setiap orang adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa. Daud menulis kejadian hidupnya yang dahsyat di dalam Mazmur 139:14 ,”Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.”
Kesadaran untuk melihat bahwa setiap orang penting adalah hal yang sangat positif untuk membangun hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitar kita. Jika kita tidak menganggap orang lain itu penting, bisa dipastikan akan ada masalah serius di dalam hubungan kita dengan orang lain. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa melihat bahwa setiap orang itu penting? Awali dari diri kita lebih dulu. Kita tidak mungkin bisa melihat orang lain penting sebelum menyadari diri kita adalah penting dan sebelum orang lain menganggap kita penting, kitalah yang harus menganggap diri kita penting terlebih dahulu. Kita penting sebagaimana diri kita penting bagi Allah, karena Allah punya kepentingan ilahi untuk mengimplementasikan kerajaanNya bagi dunia melalui diri kita. Ingat, Anda adalah orang penting sebagaimana Allah penting untuk hidup Anda.
Melihat bahwa setiap orang itu penting adalah kunci keberhasilan dalam membangun hubungan.


Sumber  :  Renungan Spirit

Kamis, 06 Oktober 2011

Power of Worship 2


Bacaan: Lukas 18:9-14

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.- Lukas 18:14

3. Kekudusan
Setiap kali kita datang kepada Tuhan melalui pujian penyembahan yang kita naikkan, pastikan kita datang dalam kekudusan. Hanya dengan kekudusan kita bisa bertemu Tuhan dalam hadirat-Nya, sebagaimana Ibrani 12:14 menyatakan, “Sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Jika kita tidak bertemu dengan Tuhan, berarti nyanyian yang kita berikan sama sekali tidak ada artinya. Yesus juga mengajar kita pentingnya hidup kudus saat akan beribadah. Jika memang ada ganjalan atau masalah dengan saudara kita, baiklah kita membereskannya lebih dulu, baru kita datang kepada Tuhan (Matius 5:24). Mengapa harus seperti itu? Karena Allah itu kudus, maka setiap orang yang datang kepada-Nya harus datang di dalam kekudusan.
4. Lapar dan haus akan hal-hal dari Allah.
Kita datang bukan dengan hati yang dingin atau biasa-biasa. Kita datang kepada Tuhan dengan penuh kerinduan agar Tuhan benar-benar menjamah dan memuaskan kerinduan kita. Jika kita datang beribadah dan memuji menyembah Tuhan dengan bermalas-malasan, jangan berharap Tuhan akan menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya kepada kita. Hanya orang yang benar-benar haus dan lapar yang akan dipuaskan (Matius 5:6).
5. Kerendahan hati.
Yesus memberikan perumpamaan tentang dua orang yang pergi ke Bait Allah untuk beribadah, orang Farisi datang dengan kesombongan sementara si pemungut cukai datang dengan kesadaran bahwa dirinya orang berdosa yang sebenarnya tidak layak. Orang yang berdosa itulah yang justru dibenarkan Tuhan. Mengapa? Karena ia rendah hati! (Lukas 18:9-14) Demikian juga unsur kerendahan hati perlu kita miliki saat kita memuji dan menyembah Tuhan. Kesombongan adalah hal yang sangat dibenci oleh Tuhan, sementara kerendahan hati justru akan menarik hadirat Tuhan dan kuasa-Nya. Sikap hati seperti apa pada saat kita datang kepada Tuhan?
Hanya dengan sikap lapar dan haus akan Tuhan, kita akan dipuaskan dalam hadirat-Nya.

Sumber  : Renungan Spirit
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Visitors

free counters
Free counters
No Rek : Nomer Rekening
A/N : Nama Anda

VISITORS ON THIS BLOG